110 Guru Sepakat Mengkampanyekan Perlindungan Anak di Sekolah

SALATIGA – Puluhan guru di Kota Salatiga menandatangani komitmen bersama untuk terus mengkampanyekan upaya perlindungan anak di sekolah dalam rangka menghentikan terjadinya kekerasan terhadap anak. Penandatanganan komitmen ini dilakukan sebagai penutup rangkaian kegiatan Pelatihan Pencegahan Kekerasan Anak di Sekolah yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kota Salatiga, Rabu (23/11).

Kepala Disdikpora Kota Salatiga melalui Kepala Bidang Pendidikan Non Formal, Masrurah Fitriyanti mengungkapkan komitmen semua pihak berkaitan dengan upaya perlindungan anak dari kekerasan dirasa menjadi satu hal yang sangat penting. Upaya ini harus konsisten dan dilakukan sejak usia dini. Menurutnya, investasi yang dilakukan sekarang akan memberikan sumbangsih yang cukup signifikan bagi kualitas generasi masa depan.

“Kegiatan pelatihan ini sudah memasuki tahap ketiga, sehingga terhitung sudah ada sekitar 110 guru baik di level SD, SMP maupun SMA/SMK yang dibekali ketrampilan untuk melakukan upaya perlindungan anak di sekolah. Kami berharap selesai pelatihan ini akan ditindaklanjuti di level sekolah, sehingga kejadian-kejadian yang mengarah kepada kekerasan terhadap anak bisa dihentikan,” imbuh Masrurah.

Berdasarkan data tahun 2013 tercatat ada 22 kasus kekerasan anak di Kota Salatiga. Korban terdiri dari 21 perempuan dan 1 orang laki-laki. Pada tahun 2014 naik menjadi 35 kasus kekerasan anak di Kota Salatiga. “Kasus-kasus kekerasan seperti ini harus kita STOP dengan berbagai macam upaya, supaya tidak ada anak-anak yang menjadi korban. Dan upaya ini membutuhkan partisipasi semua pihak,” terang Wahyu Risnani, Kabid Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Bapermasper, KB dan KP Kota Salatiga.

Senada dengan Wahyu, salah satu trainer dan juga pemerhati masalah pendidikan anak di Kota Salatiga Nugie L Kristian mengungkapkan bahwa perlindungan anak di Sekolah, tidak bisa hanya mengandalkan pihak sekolah saja. Semua pihak harus terlibat untuk melakukan perlindungan anak. Mereka berada di sekolah hanya sekitar 7 sampai 8 jam. Sedangkan sisanya berada di luar sekolah.

“Sekolah sebagai institusi pendidikan mempunyai peranan penting untuk mengurangi angka kekerasan di sekolah, namun keluarga mempunyai peranan yang tidak kalah penting dalam upaya perlindungan anak. Kedekatan anak dengan keluarga dan orang tua bisa meminimalisir terjadinya angka kekerasan yang menimpa anak,” imbunya.
(wd)


Sumber : http://salatigakota.go.id/InfoBerita.php?id=1787&

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *