Artikel

PEMBUKAAN VCT 102 KOTA SALATIGA

MENJADI GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Pada era revolusi industri 4.0 ini guru tidak boleh tertinggal dengan siswanya. Salah satu caranya adalah guru harus mampu melaksanakan pembelajaran digital atau online. Demikianlah pesan Yuni Ambarwati, S.H Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga pada Pembukaan Pelatihan Virtual Coordinator Training (VCT) Wilayah Kota Salatiga, Minggu (4/8/2019).

“Ciri guru era industri 4.0 adalah mengikuti, memahami perkembangan IT untuk diterapkan di dalam kelas. Dengan begitu guru tidak tertinggal jauh dari siswanya,” jelas Yuni.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga menyambut baik kegiatan VCT dan memberi kesempatan untuk disinergikan dengan kegiatan bidang Dikdas menjadi sebuah kegiatan yang baru. “Kegiatan ini adalah kegiatan yang luar biasa, bagaimana menyiapkan guru-guru dalam era pendidikan 4.0. Belum semua guru mendapatkan pelatihan terkait pendidikan 4.0 dan sistem pembelajaran digital.  Perlu ditindaklanjuti agar bisa masuk ke bidang kegiatan secara berkelanjutan agar tidak ada guru yang gaptek, karena sudah menjadi tuntutan.”

 

“Pendidikan 4.0 menjadi tuntutan bersama karena itu pemerintah menyediakan fasilitas pendidikan. Dinas Pendidikan Kota Salatiga secara konsisten  telah mengupayakan pemenuhan sarana prasarana untuk sekolah,” papar Kadinas. “Guru sebagai garda terdepan yang bersentuhan dengan anak-anak generasi milenial. Tantangan guru dalam mengarahkan, membimbing, dan memanfaatkan IT dalam dunia digital. Dibutuhkan tidak hanya guru biasa, tetapi guru luar biasa yang tidak gaptek. Guru perlu meningkatkan kompetensi sesuai dengan performance yang dibutuhkan di era 4.0.”. Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga ini juga memaparkan tips menjadi guru 4.0 dan kompetensi yang dibutuhkan.

Di akhir sambutannya, Kadisdik Kota Salatiga ini memberikan apresiasi kepada guru yang bersedia mengikuti kegiatan ini. Diharapkan guru yang sudah mengikuti kegiatan ini bisa menularkan kepada guru-guru yang lain.

Instruktur VCT

Dilaporkan oleh PJ VCT 102 Kota Salatiga, Yati Kurniawati, M.Pd., pelatihan diikuti 24 guru berbagai jenjang sekolah KB, SD, SMP, SMA, SMK,dan PKBM di Kota Salatiga. Pembukaan Pelatihan VCT Batch 5 itu dilaksanakan di SMP Negeri 10 Salatiga.

Yati Kurniawati yang juga Kepala SMP Negeri 10 Salatiga ini menyebutkan bahwa di era 4.0, dunia pendidikan memang dituntut mempersiapkan diantaranya sistem pembelajaran online sekolah harus ditingkatkan, infrastruktur harus dipersiapkan dan terobosan dari guru untuk melayani peserta didik agar lebih memahami IT. Guru harus mau mengembangkan kompetensi dirinya guna membekali peserta didik keterampilan abad 21. Tentunya guru tidak boleh tertinggal dalam hal IT.

“Dalam rangka membekali guru kemampuan IT, pada VCT Batch 5 ini peserta pelatihan akan didampingi oleh 3 orang instruktur dari Kota Salatiga, yaitu Dr. Saptono Nugrahadi, M.Pd., Mahbub, S.Ag, M.Pd.I, dan Ruchani, M.Pd.I. Dengan model pelatihan berbasis zonasi diharapkan tingkat kelulusan peserta semakin tinggi.

Diharapkan nantinya para guru akan memiliki kemampuan untuk mengajar secara online, mengakses materi,dan mengupload kegiatan pembelajaran ke media digital.

Sertifikat SEAMO

Di awal pelatihan, Instruktur VCT 102 Kota Salatiga, Saptono memaparkan mengenai Sejarah VCT dan Mekanisme Pelatihan VCT. Konseptor VCT adalah Dr. Gatot Hari Prijowirjanto yang mengajak Siti Zulaiha, S.Pd., Khairudin, S.Pd., M.Pd., dan Umi Tira Lestari, SE, M.Ak untuk menyusun konsep VCT. Saat ini VCT telah memasuki Batch 5. Kegiatan akan berlangsung sampai 30 Agustus 2019 secara online.

Instruktur lainnya, Mahbub, S.Pd., M.P.dI dalam paparan materi pengelolaan Webex mengatakan peserta akan diberi pembekalan komprehensif tentang berbagai kegiatan dalam pembelajaran digital. Mulai dari membuat flyer digital kepada setiap peserta, teknik menulis narasi, membuat aplikasi vicon yg digunakan untuk presentasi, dan teknik menjadi presenter, host, atau moderator secara online.

“Tujuannya meningkatkan kapasitas guru sehingga bergaya kekinian, melek digital, tapi tetap simpel. Semoga di VCT Batch 5 ini semua guru yang lulus sehingga mereka nanti bisa jadi instruktur di Batch 6 dan selanjutnya,” pungkasnya.

Ruchani, M.Pd.I, instruktur VCT 102 Kota Salatiga lainnya langsung menerapkan presensi peserta acara Pembukaan VCT Batch 5 menggunakan QR Code.

“Peserta hadir melakukan registrasi dan presensi berbasis QR Code. Dalam pelatihan ini peserta akan dilatih membuat presensi online, membuat QRCode, teknik merekam kegiatan dan diupload ke YouTube, memasukkan kontak secara massal via Google Contact, mempublikasi kegiatan di medsos, diajari membuat testimony berbasis blog, dan teknik mengubah text to speech dan speech to text,” terangnya.

Sebagai guru di lingkungan Kemenag Kota Salatiga, Rukhani menambahkan bahwa peserta yang dinyatakan lulus akan mendapat sertifikat dengan standar internasional ISO Asia Tenggara karena pelatihan itu diadakan oleh SEAMEO (The Southeast Asian Ministers of Education Organization).

Sejalan dengan hal itu guru SMP Negeri 3 Salatiga peserta VCT Batch 5, Chatarina Titik Setiyarini, S.Si mengaku kegiatan pelatihan itu sangat penting dan bermanfaat bagi guru. Sebab menghadapi era industri digital 4.0, guru dan insan pendidikan memang dituntut berinovasi dan lebih menguasai teknologi informasi (IT).

“Karena tantangan revolusi industri 4.0 itu menuntut semua bisa menguasai teknologi digital. Dengan menguasai materi VCT ini, kita akan bisa membantu anak didik lebih memahami pembelajaran digital. Guru akan bisa melayani kebutuhan anak didik sehingga tidak gaptek dalam menghadapi era digital 4.0,” jelasnya.

Berdasarkan pengalamannya, Chatarina menambahkan pembelajaran sistem online sangat efektif dan akan banyak membantu guru maupun siswa. Bagi guru bisa lebih efektif dalam menyampaikan materi kepada anak didik tanpa harus tatap muka.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close